Pemikiran Tradisional Jawa (Konsep
Kekuasaan Jawa)
Ada lima aliran pemikiran politik yang mewarnai
perpolitikan di Indonesia, yakni: nasionalisme radikal, tradisionalisme Jawa,
Islam, sosialisme demokrat, dan komunisme. Kelima aliran pemikiran inilah yang
membentuk budaya politik dan sistem politik di Indonesia dari masa lampau
sampai masa sekarang, dengan berbagai perubahan yang terjadi di Indonesia. Jika
pemikiran politik lainnya merupakan sebuah pengaruh dari perkembangan pemikiran
barat, Tradisionalisme Jawa merupakan sebuah kultur pemikiran politik yang
berasal dari nusantara sendiri.
Tradisionalisme
Jawa, sesuatu yang khas yang nampak dalam pemikiran politik, bahwa realitas
tidak dibagi dalam berbagai bidang yang terpisah-pisah dan tanpa hubungan satu
sama lain, melainkan realitas dilihat sebagai suatu kesatuan menyeluruh. Dunia, masyarakat dan alam adikodrati bagi
dunia Jawa merupakan suatu kesatuan. Hal inilah yang di jelaskan Ben
Anderson dalam sebuah artikelnya, yaitu The Idea of Power in Javanese Cultur,
dimana Ben, mengidentifikasikan antara konsep kekuasaan barat dan Jawa, dimana
banyak yang bersebarangan antara model kekuasaan Jawa dengan model kekuasaan di
Barat yang menjadi dasar pengembangan ilmu politik.
Tradisi
pemikiran politik Jawa secara khas memberikan tekanan kepada pratanda-pratanda
pemusatan kekuasaan dan bukan kepada perbuatan yang memperlihatkan pemakaian
atau pengunaanya. Pertanda ini di cari orang baik pada diri pemegang kekuasaan
maupun dalam masyarakat di mana ia memegang kekuasaan.
Dalam
tradisionalisme Jawa, Kekuasaan merupakan aspek penting untuk diulas dalam
politik Indonesia. Tradisionalisme Jawa tidak saja aspek kekuasaan, ada juga
aspek kepemimpinan, civil society, dan kehidupan sosial masyarakat lainnya.
Tradisionalisme Jawa berangkat atas negara kerajaan Mataram.
Paham
Barat menyatakan adanya tendensi dalam memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang
selalu instrumental, sehingga dapat dikatakan sebagai sesuatu yang netral dalam
arti moral, namun pemahaman itu berbeda dengan dunia Jawa yang menyatakan bahwa
kekuasaan adalah lebih dari kemampuan untuk memaksakan kehendaknya kepada orang
lain saja. Kekuasaan dalam pandangan Jawa merupakan sesuatu yang konkret, maka
tidak lepas dari ciri-ciri khasnya. Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang
memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang netral, melainkan membawa
akibat-akibat yang baik bagi masyarakat. Kekuasaan dalam pandangan Jawa
terlihat dari hasil-hasil yang dicapainya. Apabila rakyat sejahtera, adil dan
makmur, maka dapat dilihat kekuasaan sang Raja itu.
Sebagai bangsa yang memiliki etnis mayoritas Jawa
tentu kekuasaan negara ikut dipengaruhi dan apalagi presiden Indonesia bila
ditelesik dari sejarah bangsa juga dikuasai oleh etnis Jawa seperti Soekarno,
Soeharto, dan terakhir ini Joko Widodo. Sehingga perlu pemahaman tentang apa
sebenarnya kekuasaan Jawa itu sendiri, dan tentunya paham kekuasaan jawa ini
dapat menjelaskan kekuasaan presiden Indonesia dalam konteks kekinian, terutama
Joko Widodo. Kemenangan Joko Widodo dalam pemilihan presiden memberikan
beberapa pelajaran penting dalam konteks politik, khususnya para kandidat dan
pengamat. Hal ini akan berhubungan dengan kultur politik yang masih mempunyai
pengaruh sangat besar di masyarakat Jawa khususnya.
Dalam
memahami kekuasaan Jawa, terdapat dua konsep wilayah kehidupan manusia, yakni
alam lahir dan alam batin. Jadi kekuasaan poltik yang
bertujuan untuk mengatur masyarakat dalam Tradisi Jawa harus sinergis dengan
alam lahir dan alam batin yang berakar pada kekuatan gaib atau adiduniawi alam
semesta sendiri. Kekuasaan dalam paham Jawa diartikan sebagai kenyataan
nonduniawi yang menentukan dirinya sendiri, dimana orang yang mendapat
kekuasaan itu tidak menentukannya, namun hanya sebagai tempat yang menampung
kekuasaan tersebut. Orang yang menampungnya tidak bertanggungJawab atas
perebutan dan penggunaan, karena kekuasaan berdaulat hanya pada dirinya
sendiri.
Seorang
penguasa akan betul-betul berkuasa jika semua seakan-akan terjadi melalui
dirinya sendiri. Namun sebaliknya jika terjadi kesibukan, kegelisahan dan
kekhawatiran tentang apakah akan sukses bagi orang Jawa merupakan suatu
kelemahan. Kekuasaan yang sebenarnya nampak dalam ketenangan. Sikap
tenang menunjuk pada inti kemanusiaan yang beradab, sekaligus menunjukkan
kekuatan batin, dimana seorang penguasa harus bersikap alus. Yang
berarti bahwa ia dapat mengontrol dirinya sendiri secara sempurna hingga
memiliki kekuatan batin. Orang yang berwibawa tidak perlu menunjukkan
kewibawaannya dengan usaha-usaha yang terlihat. Bila memberikan perintah tidak
perlu dengan berkata keras dan memaksa, melainkan bisa secara tidak langsung,
baik berupa sindiran, usul, ataupun berupa anjuran.
Kekuasaan
dalam pandangan Jawa bersifat metempiris, sehingga cara
memperolehnya pun tidak dengan cara-cara empiris. Satu-satunya cara adalah dengan
menggunakan pemusatan tenaga kosmis, bukan dengan melihat hasil kekayaan,
keturunan, relasi, dan lain sebagainya. Tenaga kosmis tersebut tidak dapat
begitu saja diperoleh, namun harus diberi. Sering terjadi melalui semacam
pengalaman panggilan. Bisa saja dipanggil saat sedang bersemedi lalu dijatuhi
semacam wahyu Ilahi, sehingga orang tersebut mendapat kekuatan adikodrati yang
membuat wajahnya bersinar, hingga rakyat tahu bahwa tanda itu menyimbolkan
kemunculan seorang pemimpin baru. Itulah tata cara pergantian
kepemimpinan terjadi.
Namun ada cara lain yang bisa dilakukan agar bisa
mendapata kekuasaan. Cara yang ditempuh yaitu dengan memusatkan kasektѐn,
kekuasaan kosmis, dalam dirinya sendiri. Berbagai usaha pun dilakukan, anatara
lain melakukan tåpå atau puasa, mengurangi makan, tidur dan
berpantang seksual, dan semedi. Kalau seseorang telah menjdi pemimpin atau
Raja, pastilah ia cenderung ingin memperluas kekuasaannya. Ia berusaha pula
dengan mewarisi kekuasaan yang tidak nampak dengan mengunjungi makam-makam
leluhur, mengumpulkan semua potensi dalam benda-benda magis seperti keris,
tombak dan gamelan. Apabila seorang Raja pada masa jabatannya malah berusaha
mengikuti nafsu-nafsu dan mengejar kepentingan-kepentingan pribadinya maka Raja
tersebut dikatakan mulai menunjukkan sikap pamrihnya. Hal itu
mengakibatkan ia mulai disetir oleh unsur-unsur dari luar, hal itu bisa
berdampak pada hilangnya kekuatan kosmik pada dirinya yang berakibat pada
larutnya kekuasaan pada dirinya.
DAFTAR PUSTAKA:
Anderson,
B.R.O’G, 1977, The Idea of Power in
Javanese Culture”, dalam Holt,
Culture and Politics In Indonesia. Ithaca, London : Cornell University
Press.
Budiarjo,
M. 1984. Aneka Pemikiran Tentang Wibawa
dan Kuasa, Jakarta : Sinar Harapan
Koentjaraningrat,
1974, Kebudayaan, Mentalitet dan
Pembangunan, Jakarta : Gramdia
Magnis,
Suseno, F. 1984. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang
Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: IKAPI
No comments:
Post a Comment