Saturday, December 22, 2018

Pemikiran Politik Indonesia




Pemikiran Tradisional Jawa (Konsep Kekuasaan Jawa)

Ada lima aliran pemikiran politik yang mewarnai perpolitikan di Indonesia, yakni: nasionalisme radikal, tradisionalisme Jawa, Islam, sosialisme demokrat, dan komunisme. Kelima aliran pemikiran inilah yang membentuk budaya politik dan sistem politik di Indonesia dari masa lampau sampai masa sekarang, dengan berbagai perubahan yang terjadi di Indonesia. Jika pemikiran politik lainnya merupakan sebuah pengaruh dari perkembangan pemikiran barat, Tradisionalisme Jawa merupakan sebuah kultur pemikiran politik yang berasal dari nusantara sendiri.
Tradisionalisme Jawa, sesuatu yang khas yang nampak dalam pemikiran politik, bahwa realitas tidak dibagi dalam berbagai bidang yang terpisah-pisah dan tanpa hubungan satu sama lain, melainkan realitas dilihat sebagai suatu kesatuan menyeluruh. Dunia, masyarakat dan alam adikodrati bagi dunia Jawa merupakan suatu kesatuan. Hal inilah yang di jelaskan Ben Anderson dalam sebuah artikelnya, yaitu The Idea of Power in Javanese Cultur, dimana Ben, mengidentifikasikan antara konsep kekuasaan barat dan Jawa, dimana banyak yang bersebarangan antara model kekuasaan Jawa dengan model kekuasaan di Barat yang menjadi dasar pengembangan ilmu politik.
Tradisi pemikiran politik Jawa secara khas memberikan tekanan kepada pratanda-pratanda pemusatan kekuasaan dan bukan kepada perbuatan yang memperlihatkan pemakaian atau pengunaanya. Pertanda ini di cari orang baik pada diri pemegang kekuasaan maupun dalam masyarakat di mana ia memegang kekuasaan.
Dalam tradisionalisme Jawa, Kekuasaan merupakan aspek penting untuk diulas dalam politik Indonesia. Tradisionalisme Jawa tidak saja aspek kekuasaan, ada juga aspek kepemimpinan, civil society, dan kehidupan sosial masyarakat lainnya. Tradisionalisme Jawa berangkat atas negara kerajaan Mataram.
Paham Barat menyatakan adanya tendensi dalam memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang selalu instrumental, sehingga dapat dikatakan sebagai sesuatu yang netral dalam arti moral, namun pemahaman itu berbeda dengan dunia Jawa yang menyatakan bahwa kekuasaan adalah lebih dari kemampuan untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain saja. Kekuasaan dalam pandangan Jawa merupakan sesuatu yang konkret, maka tidak lepas dari ciri-ciri khasnya. Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang netral, melainkan membawa akibat-akibat yang baik bagi masyarakat. Kekuasaan dalam pandangan Jawa terlihat dari hasil-hasil yang dicapainya. Apabila rakyat sejahtera, adil dan makmur, maka dapat dilihat kekuasaan sang Raja itu.
Sebagai bangsa yang memiliki etnis mayoritas Jawa tentu kekuasaan negara ikut dipengaruhi dan apalagi presiden Indonesia bila ditelesik dari sejarah bangsa juga dikuasai oleh etnis Jawa seperti Soekarno, Soeharto, dan terakhir ini Joko Widodo. Sehingga perlu pemahaman tentang apa sebenarnya kekuasaan Jawa itu sendiri, dan tentunya paham kekuasaan jawa ini dapat menjelaskan kekuasaan presiden Indonesia dalam konteks kekinian, terutama Joko Widodo. Kemenangan Joko Widodo dalam pemilihan presiden memberikan beberapa pelajaran penting dalam konteks politik, khususnya para kandidat dan pengamat. Hal ini akan berhubungan dengan kultur politik yang masih mempunyai pengaruh sangat besar di masyarakat Jawa khususnya.  
Dalam memahami kekuasaan Jawa, terdapat dua konsep wilayah kehidupan manusia, yakni alam lahir dan alam batin. Jadi kekuasaan poltik yang bertujuan untuk mengatur masyarakat dalam Tradisi Jawa harus sinergis dengan alam lahir dan alam batin yang berakar pada kekuatan gaib atau adiduniawi alam semesta sendiri. Kekuasaan dalam paham Jawa diartikan sebagai kenyataan nonduniawi yang menentukan dirinya sendiri, dimana orang yang mendapat kekuasaan itu tidak menentukannya, namun hanya sebagai tempat yang menampung kekuasaan tersebut. Orang yang menampungnya tidak bertanggungJawab atas perebutan dan penggunaan, karena kekuasaan berdaulat hanya pada dirinya sendiri.
Seorang penguasa akan betul-betul berkuasa jika semua seakan-akan terjadi melalui dirinya sendiri. Namun sebaliknya jika terjadi kesibukan, kegelisahan dan kekhawatiran tentang apakah akan sukses bagi orang Jawa merupakan suatu kelemahan. Kekuasaan yang sebenarnya nampak dalam ketenangan. Sikap tenang menunjuk pada inti kemanusiaan yang beradab, sekaligus menunjukkan kekuatan batin, dimana seorang penguasa harus bersikap alus. Yang berarti bahwa ia dapat mengontrol dirinya sendiri secara sempurna hingga memiliki kekuatan batin. Orang yang berwibawa tidak perlu menunjukkan kewibawaannya dengan usaha-usaha yang terlihat. Bila memberikan perintah tidak perlu dengan berkata keras dan memaksa, melainkan bisa secara tidak langsung, baik berupa sindiran, usul, ataupun berupa anjuran.
Kekuasaan dalam pandangan Jawa bersifat metempiris, sehingga cara memperolehnya pun tidak dengan cara-cara empiris. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan pemusatan tenaga kosmis, bukan dengan melihat hasil kekayaan, keturunan, relasi, dan lain sebagainya. Tenaga kosmis tersebut tidak dapat begitu saja diperoleh, namun harus diberi. Sering terjadi melalui semacam pengalaman panggilan. Bisa saja dipanggil saat sedang bersemedi lalu dijatuhi semacam wahyu Ilahi, sehingga orang tersebut mendapat kekuatan adikodrati yang membuat wajahnya bersinar, hingga rakyat tahu bahwa tanda itu menyimbolkan kemunculan seorang pemimpin baru. Itulah tata cara pergantian kepemimpinan terjadi.
Namun ada cara lain yang bisa dilakukan agar bisa mendapata kekuasaan. Cara yang ditempuh yaitu dengan memusatkan kasektѐn, kekuasaan kosmis, dalam dirinya sendiri. Berbagai usaha pun dilakukan, anatara lain melakukan tåpå atau puasa, mengurangi makan, tidur dan berpantang seksual, dan semedi. Kalau seseorang telah menjdi pemimpin atau Raja, pastilah ia cenderung ingin memperluas kekuasaannya. Ia berusaha pula dengan mewarisi kekuasaan yang tidak nampak dengan mengunjungi makam-makam leluhur, mengumpulkan semua potensi dalam benda-benda magis seperti keris, tombak dan gamelan. Apabila seorang Raja pada masa jabatannya malah berusaha mengikuti nafsu-nafsu dan mengejar kepentingan-kepentingan pribadinya maka Raja tersebut dikatakan mulai menunjukkan sikap pamrihnya. Hal itu mengakibatkan ia mulai disetir oleh unsur-unsur dari luar, hal itu bisa berdampak pada hilangnya kekuatan kosmik pada dirinya yang berakibat pada larutnya kekuasaan pada dirinya.

DAFTAR PUSTAKA:
Anderson, B.R.O’G, 1977, The Idea of Power in Javanese Culture”, dalam Holt, Culture and Politics In Indonesia. Ithaca, London : Cornell University Press.
Budiarjo, M. 1984. Aneka Pemikiran Tentang Wibawa dan Kuasa, Jakarta : Sinar Harapan
Koentjaraningrat, 1974, Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan, Jakarta : Gramdia
Magnis, Suseno, F. 1984.  Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: IKAPI

No comments:

Post a Comment